Sabtu, 22 Februari 2014

Karena mu.

Aku takkan seberani ini jikalau dulu aku tak lahir dari rahimu yang kokoh.
Aku takkan semampu ini untuk menulis, membaca tanpa asuh kasih mu.
Aku takkan sekuat ini untuk berlari dan berjalan tanpa nutrisi darimu.
Aku takkan melepaskan semua ingatanku, darimana aku berasal. Darimu, engkau yang hebat dan perkasa.
Aku akan mengenggam tanganmu dan menuntunmu, saat engkau mulai beranjak tua.
Tua, Bagiku itu hal alami terhebat yang pernah aku tau.
Seberusaha mungkin aku menuntunmu, menuju tempat yang engkau inginkan, tempat yang sedari dulu engkau impikan, Makkah.
Aku ingin membalas budi jasamu. Melahirkanku, mengasuhku, membiayai hidupku, mengurusku, dan sudahlah lebih dari kata cukup ketika engkau tak pernah mengatakan ‘menyayangiku’ namun semua sikap perilaku sudah menunjukan isi hatimu.
Aku mendoakan diam-diam, aku tak ingin ada yang mengetahui air mata karena takut kehilangan sosok malaikat yang bersamaku hingga detik nafasku.
Aku takut, namun semua ketakutan itu akan terjadi suatu saat nanti. Mungkin aku takkan sanggup menahan pedihnya mata ketika memang harus terbanjiri air mata, aku mungkin takkan sanggup. dan mungkin aku akan terus berdzikir memohon hal yang tak mungkin terjadi.namun jika semua itu telah terjadi  Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti dan doaku selalu di kabulkan oleh-Nya, doaku untukmu. Ibu.


Jumat, 07 Februari 2014

Diriku yang tak juga paham.


Tak seharusnya semua ini terjadi, tak seharusnya aku membicarakannya lagi. Maafkan aku yang tak paham juga tentang perasaanmu yang begitu tulus kepadaku sehingga membuat semua ini terasa begitu rumit untuk dijelaskan.

Kamis, 30 Januari 2014

Aku dan suasana itu.


Ratusan  bangku  yang disediakan masih Nampak kosong. Kehampaan disini begitu terasa. Aku hanya bisa memandangnya, ratusan bangku kosong, seonggok lapangan basket yang belum hangat oleh injakan pemain, beberapa meja juri dan dua buah ring basket yang terlihat berdiri kokoh menunggu sebuah bola memasuki lubang ringnya.
Pukul 13.30 Open gate acara Basket Yogyakarta ini, Nampak satu persatu supporter berdatangan mengisi kekosongan bangku yang disediakan. Hampir seperti dulu kau mengisi hari-hariku dengan hangat hadirmu disisi. Dress code yang Nampak sangat berbeda di setiap sekolah. Hampir seperti perbedaan kita yang tercipta. Aku hanya duduk dibawah dekat ring dan memandangi puluhan bahkan ratusan jejak kaki yang ditinggalkan didepan pintu masuk dan ratusan sudut tiket juga tersobek sebagai tanda dimana kita diperbolehkan masuk. Tiket, syarat untuk bisa masuk ke dalam arena ini. Tak seperti aku dan hatiku.. tak perlu tiket untuk bisa mengetuk pintu ini, hanya butuh rasa percaya dari dalam diriku sendiri yang dulu pernah di khianati.
Aku yang di tempat itu sebagai pencatat apa yang terjadi atau anggap saja journalis, yah, journalis competition. Aku pengamat. Aku mengamati apa yang terjadi dalam pertandingan. Tidak. Aku justru mengamati supporter  atau penonton yang datang dengan pasangan mereka, duduk di tribun atas dan bergandengan tangan yang terlihat hangat. Aku jadi ingat, kala itu. Tidak, aku tidak ingin menceritakannya, meski itu hal yang selalu aku ingat. Aku duduk di tribun paling atas. Sendirian. Aku mengamati berbagai postur tubuh para pria yang duduk didepanku. Aku ingat postur itu, bahu itu. Tidak, itu bukan kamu, dan juga wanita yang disampingnya bukan aku. Aku hanya berusaha untuk tidak menoleh, memandang dan terpikir akan yang lalu. Aku berusaha focus pada pertandingan, bola yang dipantulkan dan dilempar kesana kemari oleh pemain. Namun aku berusaha melupakan bahwa bola itu aku, aku yang dipermainkan dan aku yang hanya dilempar-lempar layaknya bola itu.
hanya perumpaan kita yang dulu.
Semakin bosan aku teringat masa dikala itu, aku coba membuka keypad di ponsel ku dan mengecek apakah ada pesan yang masuk. Ada. Teman seperjuanganku, Journalis competition. Hanya saja dia berada di samping area pertandingan. Area yang pas untuk move-on. Ya, tempat itu sangat nyaman untuk memandang cool-nya para pemain basket tanpa pasangannya. Kembali pada pesan yang temanku sampaikan, ia mengajak untuk segera turun dan menunaikan ibadah sholat ashar. Aku segera mencari jalan turun. Dan kembali ke area parkiran kendaraan. Namun tak kembali pada masa yang telah lalu.
Aku bertemu temanku dan kami banyak mengobrol tentang apa yang kami alami tadi selagi pertandingan, dia bercerita tentang para pemain putra yang berhasil di tangkap mata lensa kameranya. Sedang aku hanya terdiam mendengarkan ceritanya tanpa ingin menceritakan apa yang aku pikirkan tadi.
Begitu seterusnya. Aku hampir saja lelah. Apalaagi jika sponsor utama acara itu sedang memutarkan iklannya di layar, ditengah-tengah Gedung Olahraga itu. “…terus melaju, lupakan masa lalu…” aku malah semakin mengingat apa yang seharusnya tak aku ingat. Semakin merindu masa yang tak mungkin ku bertemu. Semakin memikirkan dan menghabiskan banyak waktuku yang berharga.

Selasa, 07 Januari 2014

AKU UNTUKMU #1


Aku pusing.
Aku benci pada hal ini, kamu tak mengangkat telfonku sejak tadi malam. Mungkin sudah 37 panggilan tak terjawab di handphone-mu dariku. Entah berapa panggilan tak terjawab dari selingkuhanmu. Mungkin selingkuhanmu tidak menelfon tetapi sudah berkencan denganmu. Lelah. Aku butuh bahu. Aku peluk bantal berbentuk emoticon, pemberian teman sekelasku saat aku berulangtahun, tahun lalu. Aku tumpahkan semua air mata ini. tak sanggup aku berpura-pura tegar. Aku tak bisa berbohong hanya untuk membuat diriku lebih menarik. Senyum, Saat ini lekukan manis itu tak hadir dalam hariku. Pikiranku penuh. Penuh dugaan “apa-apa” denganmu. Kamu menghilang.

Aku bosan. Aku bosan menunggu kabar darimu. Hari ini, sehari setelah sore itu aku menangis habis-habisan. Aku berusaha tak peduli lagi denganmu. Ya aku berusaha berpura-pura lagi. Aku pulang dari kampus, mengendarai motor berbentuk vespa, scoopy. Dalam perjalananku yang kupikirkan hanyalah dirimu. Tidakkah kau mengerti? Aku menghawatirkanmu!
Sekelebat terlintas dalam benakku menuju taman kota. Aku muak. Disini penuh dengan pasangan. Lalu ku lihat jam ditangan, 14 februari. Yaa pantas saja. Aku hanya duduk dibangku taman dengan sebatang coklat manis ditangan. Seperti angin, datang menghembuskan lalu pergi perlahan. Kini aku benar benar tak tahan. Aku menelfonmu lagi. Kamu angkat. Bukan kamu. Tak sampai 10 menit pembicaraan ini terputus. Aku menangis.

Kenangan. Terkubur dalam namun suatu ketika dapat bangkit semau mereka. Menghancurkan mood, mengulur benang pikiran dengan panjang lalu melepaskan tanpa tanggungjawab. Meninggalkan bekas aliran air mata di pipi. Mencintai lalu tiba-tiba pergi.

Untuk kamu,
Aku merindukan sosokmu,
Tetap diam dan mengerti saat aku marah.
Menggenggam jemariku saat aku tidak dalam mood yang bagus.
Memeluk dan merayuku saat aku cemburu.
Tidak pernah lelah menanyakan kabar dariku.
Tidak bosan untuk menghiburku.

Itu kamu tetapi kamu yang dulu.

Kamu yang sekarang,
Hanya diam dengan apapun yang aku lakukan.
Hanya diam meskipun air mataku mengalir deras.
Hanya diam walau ku panggil panggil namamu.
Tapi aku tetap menjaga perasaan ini, seperti dulu.

Selamat jalan kamu. Maafkan aku yang selalu menghawatirkan kamu.
Penuh cinta,
Aku.

AKU UNTUKMU #2


Kau tahu? Aku tak pernah lelah menjaga perasaan ini. pipiku sudah siap ketika akan kau tampar aku dengan duga penuh khawatirmu. Tetapi tidak sayang, aku tak bersama wanita lain. Selain dirimu. Aku menyukai tamparan cemburumu. Bagiku hal itu, hal yang akan sangat aku rindukan ketika aku sedang tak bersamamu.

Sore ini. demamku kambuh aku tak dapat meraih handphoneku. Aku tau. Kamu menelfonku. Dan mungkin menghawatirkanku. Tetapi aku tak dapat membalas khawatirmu dengan rayuanku saat ini. bibi membawaku ke rumah sakit. Maaf aku tak memberi tahumu. Demamku tinggi. Aku tak dapat melihat apapun disekelilingku, semua terasa tak fokus dan abu abu. Aku berteriak, tapi aku tak bisa keluarkan suaraku. Aku mencoba membuka mataku, tapi mataku sudah terbuka. Aku tertidur karena bius itu. Lalu aku bangun, semua terlihat kuning namun dapat kudengar jelas suara Bibi, memanggil namaku dengan keras dan mengoyang goyankan badanku seakan aku tak berdaya. Aku mengantuk, meskipun aku baru saja terbangun. Kuputuskan untuk memejamkan mataku yang semakin terasa berat. Dalam senyap tidurku, ku impikan dirimu, meraih tanganku mengajakku duduk ditaman kota merayakan 14 februari ini. tergambar jelas wajah ceriamu yang telah 3 tahun ini mengisi hari-hariku. Terimakasih atas semua yang kau lakukan padaku aku menyayangimu lebih dari yang kau bayangkan. Maafkan aku ketika aku tak bisa terbangun lagi, ketika degup jantungku berhenti, ketika sang waktu telah menjemputku kembali.

Aku takut tak ada yang diam dan mengerti ketika kamu marah,
Tak ada yang menggengam jemarimu saat kamu tak dalam mood yang bagus,
Tak ada yang memeluk dan merayumu saat kamu cemburu,
Tak ada yang tak lelah menanyakan kabar darimu,
Tak ada yang tak bosan menghiburmu.
Bahkan disini, aku masih menghawatirkanmu.

Untuk Aku,
Aku menyayangimu, aku tak meninggalkanmu. Selalu disampingmu.
Peluk dan sayang,
Kamu

Kenangan. Bagai ombak karang yang menyapu daratan pasir putih dan meninggalkan bekas deburan ombak dengan hangat.

Minggu, 05 Januari 2014

DE JAVU MENURUT PANDANGAN ISLAM


Ketika kamu diperkenalkan dengan seseorang, pernahkah terbesit
dalam hati, “Rasanya saya pernah bertemu orang ini. Di mana, ya?” Padahal, kamu belum pernah bertemu sebelumnya. Itu disebut gejala deja vu. Déjà vu adalah suatu perasaan aneh ketika seseorang merasa pernah berada di suatu tempat sebelumnya, padahal belum. Atau, merasa pernah mengalami suatu peristiwa yang sama persis, padahal tidak. Konon, orang tang sering mengalami hal itu memiliki bakat spiritual tinggi.
Para skeptis menganggap itu hanya sensasi. Namun banyak juga ahli yang percaya bahwa hal itu memang nyata. Bagaimana bagi orang islam ? Surat Al Hadid ayat 22 di atas memberi sekilas isyarat. Bahwa segala sesuatu yang belum terjadi, sudah tertulis dalam kitab. Tengoklah juga surat Ash-Shaaffaat (37) ayat 96, “Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat."
Semua peristiwa di bumi dan semua perbuatan kita memang sudah ada sejak awal. Lalu, akan terjadi satu per satu secara berurutan. Dan pada waktunya, akan terekam dalam saraf penyimpan di otak, mungkin suatu ketika terjadi short-circuit, korslet di otak seseorang. Lintasan listrik di otak melompat nyerempet sinyal ke wilayah yang belum terjadi. Maka orang merasa sudah pernah mengalami atau melihat sesuatu. Padahal yang terjadi adalah dia “pernah” melihat, tetapi di masa depan. Selama ini “pernah” hanya dikaitkan dengan masa lalu. Gejala déjà vu memperluas makna “pernah” hanya dikaitkan dengan masa lalu. Gejala déjà vu memperlus makna “pernah” ke masa lalu dan juga masa depan.
Aneh? Tidak juga. Kita lihat dalam Surat Al Fath ayat 27, Allah membuka peristiwa ketika nantinya Rasulullah Saw. Memasuki Mekah dengan aman. Padahal, itu belum terjadi. Lalu Surat Ar-Ruum (30) ayat 2-4 yang berisi tentang kemenangan Romawi atas Persia, padahal itu baru terjadi beberapa tahun kemudian, itu contoh penyingkapan terhadap peristiwa yang belum terjadi bagi siapapun yang membaca Al Quran. Ternyata, selain kepada para nabi, kadang-kadang Allah memberi “bocoran” masa depan kepada manusia biasa juga. Masa depan memang sudah ada saat ini. Hanya saja, kebanyakan manusia tidak bisa melihatnya. Kecuali mungkin sekilas déjà vu yang dialami segelintir orang tadi.
(sumber: habiball. blogspot. com)

Minggu, 29 Desember 2013

New Year, 2014!

@picsnquotes

weheartit


me
Dear 2013,
thanks you for all the lessons. everything about you i can't forget. thank you. in this year:
i'm broken
i'm grave memories w/ them
i'm met him
i move
and
i'm happy
Sincerely,
Sijna  
weheartit

Sabtu, 28 Desember 2013

Maafkan aku yang tak adil


“Maafkan bila aku tidak adil, kamu tidak tau apa apa tentang aku, tapi mungkin kamu telah membuka dirimu hampir seluruhnya untukku.”-Ratih Kumala

Sebait kalimat aku tulis untuk pembuka beberapa kalimat dibawahnya, aku kutip dari novel yang begitu rumit bagiku tapi sangat dalam artinya, seperti aku dengan kerumitanku yang ingin menjelaskan maksudku. Disini aku bermaksud meminta maaf padamu. Aku tak sepenuhnya melupakan dia, hanya saja dia terkubur oleh waktu. Kamu mengerti aku, mengenalku, tapi tidak pada cerita hidupku.

Aku tau sekarang aku sedang bersama siapa, seseorang yang sangat baik dan tidak ingin aku membuat orang itu membenciku seperti sang baskara membenci sang wulan.

Tapi tolong maafkan aku jika tak sepenuhnya tentang dirimu yang mengerumuniku, masih ada hal hal lama yang ingin aku sandang. Tak nampak seperti kenangan tetapi seperti kegiatan yang tak ingin aku lepaskan dari kebiasaan.

Biasa, aku hanya orang biasa yang suka berbagi cerita layaknya perempuan pada umumnya.

Dan tolong maafkan ketika aku menceritakan dulu-ku padamu, dan hal itu membuatmu tak senang. Kamu, tolong jangan tutupi kesalahanku. Ketika aku menyakiti perasaanmu tolong katakan! Tak apa bagiku.

Aku hanya senang berbagi cerita, dan mungkin cerita itu juga yang membuatku senang. Tapi tolong jangan tinggalkan aku karena aku tak dapat lepas sepenuhnya dari dulu-ku.

Aku tak mau sendiri, tak ada yang bisa aku bagi cerita. Meski aku tak takut sendiri dan sekarang aku sendiri. Pada dasarnya semua orang akan sendiri.. Nantinya..

Aku akui ada hal baru dalam hidupku, dan itu kamu. Membantu melangkah dalam mengubur dulu-ku. 

Senin, 16 Desember 2013

Semua ini tentang apa yang harus aku pelajari.



Ketika semua perjalanan hidup mu terasa lancar, ketika semua air mata kering, ketika senyum selalu terurai dari bangun tidur hingga akan tidur semua itu terganti dengan kebalikannya?
Perjalanan hidup terasa rumit, air mata terus mengucur tiada henti, tak ada yang bisa ditarik otot pipi untuk mengurai senyum dan ditambah hati yang terluka karena tersayat sayat.
Aku hanya terdiam dan bersembunyi saat semua itu terjadi, aku terlalu takut untuk mengungkapkan diriku lemah, aku hanya berpurapura kuat agar kalian (orang orang yang disekelilingku) tidak khawatir terhadapku, atau setidaknya kalian tetap menjalankan aktivitas kalian dengan suka hati tanpa harus menghiraukanku dan segala keadaanku.
Aku mengerti semua itu terjadi karena suatu alasan, Dia Yang Maha Kuasa memberi jalan hidupku sebagaimana Dia mengatur yang terbaik untukku. Semua yang terjadi tentulah dengan alasan. Everything happened with a reason, hanya saja aku tak tau alasan itu, aku hanya perlu mencarinya dan memahaminya.
Yes, people may will: hate you, rate you, shake you, judge you and break you, but how strong you stand is what makes you. Just be like you’re okay, and say “iam okay” with a smile. So everyone in around you thought that you’re strong.
Yang aku tau tetaplah tegar, jangan sakiti ia kembali, kita hanya perlu memahaminya. Sambutlah pagi harimu dengan lembaran hati yang baru, jangan bawa pecahan hati yang sudah lalu. Setiap pagimu ialah hal yang baru maka sambutlah dengan hal yang baru juga. move on and grow stronger. Jangan biarkan yang lalu membuatmu berhenti berharap. A woman’s strenght isn’t just about how much she can handle before she breaks, it’s also about how much she must handle after she’s broken. (@pictnquotes) 

Senin, 21 Oktober 2013

KEHAMPAAN ITU TERISI OLEH MU




               Awal pertemuanku denganmu hanyalah sebuah kebetulan tak berarti, tak berkesan selama pertemuan itu terjadi. Namun sang waktu yang amat sering mempertemukan kita, benih benih rasa rindu kian marak ditanam saat tak berjumpa, ditanam dengan amat dalam, dirawat oleh senyuman sapaan pagimu dan disirami dengan rutin oleh percakapan perhatianmu kepadaku. Ya benar, kau begitu perhatian. Kau juga begitu memperhatikanku dalam setiap liku kehidupanku dengan pertanyaan pertanyaan manismu. Kehidupanku terasa berwarna dengan aneka rasa senang menghabiskan waktu bersamamu. Pesan untuk selalu menjaga kesehatan, larangan kecil agar berhati hati dijalan, dan segalanya terasa damai bersamamu. Namun semua itu hilang begitu saja. Dimulai saat pagi itu aku bertemu denganmu di kampus, kau terlihat diam dan merenung sehingga tak sadar ada hadirku disitu, aku tak berani bertanya apa apa, aku takut jika itu hal yang sangat rahasia, aku hanya bisa menengangkanmu dengan suara perlahan dan kata yang lembut.
               Waktu bergulir. Malam itu kita hanya bisa berkirim pesan, dengan suasana yang sangat kering. Suasana terasa sepi, hanya ada aku, kamu, dan pesan singkat di handphone ini. seketika kedamaian, kesunyian, kesepian malam itu terpecah oleh air mata yang aku titikan, serasa dunia berubah menjadi abu-abu karena pesan singkatmu yang berisi kata kata untuk mengakhiri hubungan yang kita jalani, hubungan yang aku anggap selama ini berjalan baik baik saja sebelum malam ini terjadi. Aku menangis sejadi-jadinya, ku titikan buliran bening dengan derasnya, aku tak peduli butuh berapa pack tisu untuk menghapus air mata ku yang mengalir. Kali ini aku tak bisa sembunyikan perasaanku. Sedih sekali rasanya, aku harus kehilangan seseorang yang bisa membuat hidupku berwarna.
               Tanggal di jam tanganku sudah bertambah 1, 21. Aku bertemu kau di lobby kampus. Berpapasan tanpa tegur sapa.. berjalan biasa selayaknya tidak pernah terjadi apa apa diantara kita, aku merasa kehilangan sesuatu, tapi semua perubahan sikap itu masih bisa aku terima dengan lapang dada, dengan ikhlasnya. Aku terpaksa tersenyum agar kau tak perlu khawatir terhadap apa yang telah terjadi semalam. Namun semua kekhawatira ku itu salah besar, aku melihatmu asyik bermain dengan teman teman baru mu yang tampak asing bagiku. Maaf. Aku mengamati kegiatanmu disana, meski kita sudah tak bersama, tapi aku tak bisa menahan diriku untuk tidak mencarimu. Disela keriuhan canda tawa temanmu, aku melihat suatu pemandangan yang benar benar tidak aku harapkan, pemandangan yang sungguh membuat aku merasa sakit dan patah hati. Benar benar patah hati. Aku mendapatimu meraih tangan seorang perempuan dan menatap matanya dalam dalam. Sungguh terluka aku saat itu. Rasanya aku ingin menganggu kalian. Aku tak tahan namun pada akhirnya aku hanya memutuskan untuk menjauh dan pergi dari pemandangan itu setelah aku melihatmu memberikan seikat bunga untuk perempuan itu.
               Sang surya telah terganti oleh sinar rembulan yang memancar terang malam itu. begitu cepat aku terganti... aku bisa melihatnya. Kini semua pebedaan itu baru terasa.. hampa, tak ada lagi yang memperhatikanku, tak ada pertanyaan pertanyaan kecil yang terselip di handphone ku disela sela aktivitasku, yaaa aku akui memang terkadang aku jengkel karena mungkin sedikit mengganggu tapi setelah ketidakhadirannya, aku merindukannya.............
kehampaan ini begitu terasa setelah pelengkap hidupku menghilang, aku sempat putus asa. Seperti ballpoint tanpa tinta, seperti handphone tanpa pulsa. YA! Untuk apa?!
aku mulai merindu
aku mulai merasa hampa dan sepi
semua terjadi bergitu cepat tanpa aku sadari. Rasanya baru kemarin aku berkenalan denganmu, bertatap muka bertanya nama. Tapi kini semua berakhir tak bahagia, iya itu bagiku. Karena bagimu akhir bahagia karena kau telah bersama perempuan yang tak aku kenal. Aku berharap kau tak merasakan sakit seperti apa yang aku alami saat ini karena perempuan itu. Tak apa cukup aku saja yang merasakannya.
               Sinar sang surya menyentuh hangat tubuhku, yang aku harap bisa membakar semua kegelisahanku dan melengkapi kehampaanku. Aku mencoba melangkah, membaca lembaran baru bukuku tanpa tertulis namamu....
sudah sekian kali aku melewati pagiku sendiri, melangkah pasti untuk mencoba mengakhiri semua kehampaan ini. tiba tiba aku mendapat suatu pekerjaan yang mengharuskanku bertemu seseorang, dia senior ku yang akan mengajari beberapa hal dalam pekerjaanku ini. Ya hal yang sama, perjumpaan pertama, tatap muka seperti pada umumnya, tidak ada suatu perasaan yang mengganjal, tidak ada keberatan hati untuk pergi pulang dan berpisah. Langkah ini terasa ringan. Kita mengobrol, hanya sebatas masalah bisnis saja tapi entah mengapa perbincangan kita bisa meluas kemana mana, kita mulai membicarakan cita cita, hobi, tempat, lagu dan film yang kita sukai, tak ada persamaan diantaranya namun kita tertawa dan cerita bersama. Aku mulai merasa senang. Kita bertukar nomor handphone, alamat e-mail, akun sosial media. Kita jadi lebih sering bertemu diluar jam kerja, hanya untuk sekedar makan ataupun menceritakan hal hal kecil dihidup kita. Kau pun mulai menanyakan bagaimana mood ku hari ini, dan pertanyaan itu memancingku untuk bercerita banyak tentang hidupku, aku melihatmu tak bosan mendengarkan cerita panjang lebarku kau terlihat senang jika aku juga senang, seperti kau menjadi pendengar curhat setiaku. aku merasakan feel itu. Aku mulai nyaman denganmu. Tak khayalnya, mulai terucap kata kata manis yang menyemangati ku untuk disetiap pagiku, terdengar perhatian kecil di suara beratmu yang membuat ku selalu teringat akan waktu kita bertemu. Aku benar benar merasa nyaman bersama sikap dewasamu, dan semua itu. Sesibuk apapun dirimu kau selalu meluangkan waktu bersamaku, mendengarkan cerita tak bermutu dariku, semua itu membuatku bersemangat lagi menjalani kehidupanku yang hampa karena kehilangan dia yang dulu pernah ada dan pernah mengisi hati ini. perhatianmu melebihi perhatiannya membuat aku merasa berarti di mata orang lain.
 Seiring berdentangnya jam dinding, tersobeknya kertas kalender tiap bulannya kini bisa aku tulis beberapa kalimat untuk mengisi titik-titik yang harus disimpulkan dari tiap akhir halaman buku kehidupanku. Kau lah yang mengisi hariku selagi aku menyandang kehampaan ini, selagi aku meratapi perbedaan yang dia buat. Kau mengisi kehampaan hidupku dan semua yang dulu pernah hilang kini tergantikan oleh dirimu. Aku bahagia bisa mengenal dan bersamamu. Semoga dirimu berbeda, tak menyakitiku seperti dia. Namun maafkan aku yang mungkin masih membandingkanmu dengan dirinya yang telah berlalu. Maafkan aku yang masih mengungkit waktu kebersamaanku dengan masa lalu. Maafkan aku jika perpisahanku dengan masa lalu membutuhkan waktu yang begitu lama tapi aku juga sedang berusaha mengganti sosoknya dengan mu. Dan terimakasih telah hadir dalam hidupku dan sekali lagi terimakasih telah mengisi kekosongan hatiku dan kehampaan hidupku J